MENEGUHKAN ARAH PERJUANGAN PADA JALUR PENDIDIKAN

Sebelas Tahun sudah Yayasan bernama DARUSSA'ADAH berdiri. Yayasan yang concern memilih jalur pendidikan Agama Islam ini semula hanya mendirikan Madrasah Aliyah (MA) dengan nama sesuai yayasan yang menaungi, Darussa'adah. Keabsahan berdirinya dibuktikan dengan izin operasional penyelenggaraan dengan diterbitkannya Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah Nomor : Kw.11.4/4/PP.03.2/1038/2005 tentang Persetujuan pendirian Madrasah Aliyah Swasta di lingkungan Kanwil Depag Prov. Jawa Tengah serta Piagam Pendirian Madrasah Aliyah Swasta Nomor : D/Kw/MA/ 471/2005 tanggal 13 Mei 2005 dengan status terdaftar. Dan pada Akreditasi 2014 MA Darussa'adah sukses meraih nilai B, dan pada 2016 membuka program keterampilan.

Hingga pada 3 tahun berikutnya pada 2008 berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) disusul Pondok Pesantren dengan nama yang tidak beda, Darussa'adah. Konon, penamaan ini dari almarhum KH. Abdullah bin H. Bahri Bulak Rowosari, ayah dua pendiri yayasan; Prof.Dr.H. Ahmad Qodri Abdillah Azizy dan Prof.Dr.H. Masykuri Abdillah.

Berawal dengan melangsungkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Mustabanul Khoirot Bulak Depan Masjid Tanwirul Qulub. MDA yang sudah berdiri puluhan tahun sebelumnya ini bisa disebut sebagai 'embrio' pendidikan di desa ini. Sebelumnya, di gedung MDA yang pendiriannya juga diprakarsai Almarhum KH. Abdullah ini juga pernah berdiri satuan pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) Mustabanul Khoirot, dan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ) Mustabanul Khoirot.

MADRASAH, PILIHAN TERAKHIR?
Tak terkecuali MA dan MTs Darussa'adah yang juga berdiri menyusul di tahun berikutnya. Terutama MA, berbagai rintang hambat mewarnai kisah langkah perjuangannya. Kendati kini sudah memiliki gedung sendiri yang tidak jauh dari tempat lama, ia terus berupaya meneguhkan arah perjuangannya. Terlebih berdiri di lingkungan pedesaan, dimana pendidikan agama seperti MA menjadi pilihan terakhir. 

"Memang di lingkungan pedesaan, untuk pendidikan tingkat atas peserta didik lebih memilih sekolah kejuruan", ujar Prof. Masykuri Abdillah usai Halal Bi Halal Keluarga besar Yayasan Darussa'adah pada Kamis siang (7/7) di Kediaman almarhum KH. Abdullah Bulak Rowosari. Ini terbukti di wilayah Kabupaten Kendal, Pendidikan Madrasah Aliyah peminatnya masih relatif minim.

Berbeda dengan masyarakat perkotaan -tertama kota pendidikan- yang orang tua justru memilihkan putra-putrinya pada pendidikan Agama. Seperti di Kota Malang, Yogyakarta, Jakarta, Madrasah menjadi pilihan nomer "wahid". 

MENEGUHKAN ARAH PERJUANGAN
Fenomena di atas menggejala hampir di setiap lingkungan yang masih disebut 'desa'. Namun, gejala ini patut dijadikan bahan refleksi sebagai pijakan loncatan pada perjuangan berikutnya. Tak terkecuali Yayasan Darussa'adah ditutuntut terus meneguhkan arah perjuangan pada jalur pendidikan yang telah dipilih sejak berdirinya. 

Peningkatan mutu tenaga pendidik menjadi pilar penting dan tak terelakkan. Semakin banyak guru dengan predikat "bersertifikasi" diharapkan mampu mendongkrak out put peserta didik yang juga bermutu. Pemenuhan sarana pendidikan juga menjadi prioritas yang tak kalah penting. Kebutuhan sarana peribadatan mendesak untuk segera terwujud. Tak terkecuali prasarana lain yang terkait erat dengan keberlangsungan proses Kegiatan Belajar Mengajar.
Dengan ihtiyar lebih maksimal, dan keyakinan kuat, maka tidak mustahil yayasan ini akan menjadi mercusuar pendidikan yang digandrungi, dan dengan sendirinya akan tampak perkembangan baik kualitas maupun kuantitas. SM

(Sekelumit refleksi dari bincang santai bersama sang akademisi)




Share on Google Plus

About Sis Maula

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar